JAKARTA – Pemerintah memastikan ketahanan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional berada dalam kondisi aman menjelang periode akhir Ramadan dan arus mudik Lebaran 2026. Pernyataan ini sekaligus menepis kekhawatiran publik di media sosial terkait ketahanan energi nasional yang disebut-sebut hanya bertahan selama 20 hari.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa angka 20 hingga 23 hari yang beredar merupakan stok operasional, bukan cadangan strategis jangka panjang. Stok operasional tersebut mencakup ketersediaan bahan bakar yang terus berputar setiap hari di terminal BBM, kilang, hingga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
"Yang kita sampaikan itu adalah stok operasional yang memang berputar setiap hari di terminal BBM, kilang, dan SPBU. Jadi bukan berarti Indonesia hanya punya cadangan untuk 20 hari lalu habis," tegas Bahlil dalam keterangan resmi di Jakarta, awal Maret 2026.
Bahlil menambahkan bahwa per 1 Maret 2026, ketahanan stok BBM nasional berada pada level 21–23 hari. Angka ini masih berada di atas standar minimum yang ditetapkan oleh pemerintah, sehingga pasokan untuk kebutuhan masyarakat selama Idul Fitri dipastikan mencukupi.
Senada dengan pemerintah, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) memastikan distribusi energi tetap berjalan normal. Pertamina telah mengaktifkan Satuan Tugas Ramadan dan Idul Fitri (Satgas RAFI) 2026 untuk memantau ketersediaan BBM dan LPG secara real-time.
Guna melayani pemudik, Pertamina menyiapkan berbagai fasilitas tambahan seperti SPBU siaga 24 jam, layanan motoris untuk pengantaran BBM di jalur padat, serta penambahan armada mobil tangki di wilayah dengan proyeksi konsumsi tinggi.
Mengenai isu eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia, pemerintah menegaskan telah melakukan mitigasi risiko secara mendalam. Bahlil menyebut sistem logistik nasional saat ini dalam kondisi stabil dan pasokan dalam negeri tidak terdampak secara langsung.
"Kita terus melakukan mitigasi risiko. Sistem logistik nasional kita dalam kondisi stabil. Tidak ada kelangkaan," imbuhnya.
Sebagai langkah strategis jangka panjang, Kementerian ESDM menargetkan peningkatan kapasitas penyimpanan energi nasional hingga setara dengan 90 hari konsumsi. Target ini akan dicapai melalui pembangunan infrastruktur tambahan serta optimalisasi fasilitas penyimpanan yang sudah ada untuk memperkuat ketahanan energi nasional dari gangguan global di masa depan.