Talkshow Sosialisasi Lalu Lintas Polresta Bogor Kota di Stasiun Radio PRSSNI Kisi 94,8 FM | Portal Berita Bogor

Talkshow Sosialisasi Lalu Lintas Polresta Bogor Kota di Stasiun Radio PRSSNI Kisi 94,8 FM

Talkshow Sosialisasi Lalu Lintas Polresta Bogor Kota di Stasiun Radio PRSSNI Kisi 94,8 FM

BOGOR-BogorBagus.com.

Anggota Sat Lantas Polresta Bogor Kota bekerjasama dengan Stasiun Radio PRSSNI Kisi 94,8 FM menggelar Talkshow dalam rangka kegiatan Sosialisasi lalu lintas yang berlangsung di ruang Studio Radio PRSSNI Kisi 94,8 FM, Jl. Mayor Oking Jaya Atmaja No. 9, Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (8/10/2018) pukul 09.00 hingga pukul 10.00 WIB.

Tim pelaksana Talkshow antara lain, Ipda M. Abubakar Sidin, Brigadir Ari Mustofa, Brigadir Alex Dani Irawan dan Bripda Julia Tita, dengan Dipandu Radio Announcer Ka Dani, dari Radio PRSSNI Kisi 94,8 FM.

Talkshow Sosialisasi lalu lintas bertemakan, Sirine Strobo dan TNKB (tanda nomor kendaran bermotor) menyampaikan beberapa hal diantaranya sbb:

LARANGAN PENGGUNAAN SIRINE dan STROBO
1. Pasal 287 ayat 4 dari UU No 22 tahun 2009 pengguna kendaraan bermotor pribadi dilarang menggunakan lampu/sinar rotari untuk kepentingan kelancaran lalu lintas, pelanggaran ini dapat dikenakan hukum kurungan selama satu bulan dan denda maksimal sebanyak Rp 250.000.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, penggunaan lampu isyarat disertai sirene, sesuai pasal 134 dan 135 boleh dipasang pada kendaraan yang mendapat hak utama.

Berikut bunyi Pasal 134 : Pengguna Jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai dengan urutan berikut:
a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas.
b. Ambulans yang mengangkut orang sakit.
c. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas.
d. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia.
e. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara.
f. Iring-iringan pengantar jenazah.
g. Konvoi dan/atau Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

2. Pasal 59 UU No.22 Tahun 2009.
(1) Untuk kepentingan tertentu, Kendaraan Bermotor dapat dilengkapi dengan lampu isyarat dan/atau sirene.
(2) Lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas warna: merah, biru dan kuning.
(3) Lampu isyarat warna merah atau biru sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b serta sirene sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai tanda Kendaraan Bermotor yang memiliki hak utama.
(4) Lampu isyarat warna kuning sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c berfungsi sebagai tanda peringatan kepada Pengguna Jalan lain.
(5) Penggunaan lampu isyarat dan sirene sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sebagai berikut:
a. lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
b. lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor tahanan, pengawalan Tentara Nasional Indonesia, pemadam kebakaran, ambulans, palang merah, rescue, dan jenazah.
c. lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor patroli jalan tol, pengawasan sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, perawatan dan pembersihan fasilitas umum, menderek Kendaraan, dan angkutan barang khusus.

PENGGUNAAN TNKB TIDAK SESUAI SPEKTEK
1. Mengacu pada Undang-Undang No.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 68 menjelaskan bahwa kendaraan bermotor wajib menggunakan TNKB yang memenuhi syarat bentuk, ukuran, bahan, warna, dan cara pemasangan
2. Sesuai dengan pasal Pasal 280 UU Nomor 22 Tahun 2009.
Bunyi pasal tersebut adalah, “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).
3). 1. TNKB yang hurufnya diatur, angka diubah supaya terbaca,/angka diarahkan ke belakang sehingga terbaca nama.
2. TNKB yang hurufnya diubah seperti huruf digital.
3. TNKB ditempel stiker/logo/lambang kesatuan/instansi yang terbuat dari plastik/logam/kuningan pada kendaraan pribadi, seolah-olah pejabat.
4. TNKB yang menggunakan huruf miring dan huruf timbul.
5. TNKB yang dibuat di luar ukuran (terlalu besar/terlalu kecil).
6. TNKB diubah warna/doff dan ditutup mika sehingga warna berubah.
7. TNKB yang huruf angkanya sebagian ditebalkan dan sebagian dihapus dengan cat piloks sehingga nomor asli tersamar warna catnya, sulit untuk dibaca.

Secara keseluruhan pelaksanaan kegiatan berlangsung lancar dan dapat disampaikan sesuai sasaran pendengar Radio Kisi FM Khususnya. (Broolek)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan