Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Laksanakan Kegiatan Penanggulangan Penyakit Difteri

NASIONAL136 Dilihat
banner 468x60

Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Laksanakan Kegiatan Penanggulangan Penyakit Difteri

Cibinong – BogorBagus.com –

banner 336x280

Sehubungan dengan adanya laporan Kejadian Luar Biasa (KLB), penyakit Difteri yang diterima Kementerian Kesehatan sampai akhir November 2017, yang terjadi di beberapa Wilayah Kabupaten dan Kota di Indonesia, di perlukan upaya penanggulangan segera untuk memutus penularan. Dengan adanya hal tersebut Kementerian kesehatan Republik Indonesia melalu Dinas Kesehatan di beberapa Kabupaten dan Kota, menginstruksikan upaya penanggulangan segera untuk memutus penularan. Disamping itu upaya menurunkan jumlah kasus Difteri dan mencegah agar penyakit tersebut tidak semakin meluas, untuk itu diperlukan tindakan Outbreak Response Immunization (ORI) dengan Vaksin yang mengandung Difteri.

“Pelaksanaan kegiatan ORI Difteri sendiri sesuai instruksi Kemenkes, dimulai Minggu ke-2 Bulan Desember 2017,” demikian diungkapkan, Kepala bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, dr. Agus Fauzi, M.Kes., kepada Media BogorBagus.com di ruang kerjanya, Selasa (12/12/2017).

Agus juga menerangkan, “Penyakit Difteri yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae (Cd), biasanya mempengaruhi selaput lendir dan tenggorokan, yang menyebabkan sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak dan lemas. Dalam tahap lanjut, Difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem saraf. Kondisi seperti itu pada akhirnya bisa berakibat sangat fatal dan berujung pada kematian,” ujarnya.

“Penularan bakteri Corynebacterium diphtheriae(Cd), dapat menyebar melalui tiga rute:
1.Bersin.
2.Kontaminasi barang pribadi.
3.Barang rumah tangga.
Selain itu, kita juga dapat terkontaminasi bakteri berbahaya tersebut apabila menyentuh luka orang yang sudah terinfeksi.
Tanda dan gejala”.

Masih menurut Agus, “Berbagai tanda dan gejala Difteri meliputi, sakit tenggorokan dan suara serak, nyeri saat menelan,pembengkakan kelenjar (kelenjar getah bening membesar) di leher, dan terbentuknya sebuah membran tebal abu-abu menutupi tenggorokan dan amandel, sulit bernapas atau napas cepat, demam, dan menggigil”.

“Tanda dan gejala biasanya mulai muncul 2-5 hari setelah seseorang menjadi terinfeksi. Orang yang terinfeksi Corynebacterium Diphtheria seringkali tidak merasakan sesuatu atau tidak ada tanda-tanda dan gejala sama sekali. Orang yang terinfeksi namun tidak menyadarinya dikenal sebagai carier (pembawa) difteri. Sumber penularan penyakit difteri ini adalah manusia, baik sebagai penderita maupun sebagai carier,” terang Agus pula.

Tipe kedua dari Difteri dapat mempengaruhi kulit, menyebabkan nyeri kemerahan, dan bengkak yang khas terkait dengan infeksi bakteri kulit lainnya. Sementara itu pada kasus yang jarang, infeksi Difteri juga mempengaruhi mata.

“Untuk Kabupaten Bogor sendiri jumlah Kasus Difteri pada tahun 2017 sampai dengan Nopember sebanyak sembilan (9) kasus, Tujuh (7) sehat sedangkan dua (2) meninggal,” jelas Agus.

Kabid P2P Dinkes Kabupaten Bogor juga menuturkan, Salah satu upaya pencegahan agar terhindar dari penyakit Difteri adalah, “Dengan vaksinasi Difteri yakni, Vaksinasi DPT(Difteri, Pertusis, Tetanus) yang merupakan vaksin kombinasi Pentabio dan diberikan pada usia 1tahun sebanyak 3x. Nanti DPT di ulang di usia 18-24 bulan, sebagai booster. Dan ulangan pada usia sekolah kelas 1yakni Vaksinasi DT (difteri tetanus) dan kelas 2 dengan Vaksinasi Td (Tetanus difteri). Rentang usia yang rawan terkena difteri adalah 2-18 tahun”.

“Untuk itu diharapkan agar para orang tua membawa dan mengizinkan anaknya untuk divaksin secara gratis di pos yandu dan puskesmas terdekat”.

“Berbagai Upaya yang telah kita lakukan pada saat kasus ditemukan antara lain:
1.Pelacakan kasus dengan mencari ks dengan klinis yang sama. Menetapkan kontak erat untuk dilakukan propilaksis.
2. Pengobatan ks dan merujuk ke Rumah Sakit dan pemberian ADS.
3.Melakukan kajian status imunisasi di populasi.
4.Mencari kasus carrier, Menentukan daerah atau pop resiko.
5. Membuat dan mengirimkan surat edaran waspada KLB Difteri ke semua puskesmas dan Rumah Sakit,” papar agus.

Upaya lainnya dengan :
A.Peningkatan penyuluhan tentang Difteri, pentingnya imunisasi, dll.
B. Sweeping sasaran yang belum diimunisasi.
C.Penanganan pasien Difteri, pemeriksaan Lab untuk konfirmasi pengobatan.
D. Dirujuk ke Rumah Sakit.
E. Mencatat dan melaporkan kasus dugaan Difteri ke Dinas Kesehatan melalui Hot line Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P),” tukasnya. (Lekat)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan