Bisfenol-A dalam Pengemasan Pangan (Opini dan Kajian Mahasiswa IPB)

Bisfenol-A dalam Pengemasan Pangan (Opini dan Kajian Mahasiswa IPB)

Smallest Font
Largest Font

Bogorbagus.com -IPB Sience. Bisfenol-A (2,2-bis (4- hidroksifenil) propan) atau sering disebut sebagai BPA merupakan senyawa kimia yang biasa digunakan untuk membuat plastik polikarbonat dan epoksi resin. Plastik polikarbonat (plastik kode 7) memiliki banyak aplikasi dalam pengemasan pangan dan minuman, seperti kemasan air minum dan botol bayi, sedangkan epoksi resin digunakan untuk melapisi dan melindungi produk logam seperti kaleng dan penutup botol. Penggunaan epoksi resin ini bertujuan untuk mencegah terjadinya korosi atau reaksi bahan pengemas dengan pangan yang ada di dalamnya.
Melalui kemasan pangan tersebut, Bisfenol-A dapat masuk ke dalam tubuh, terutama jika kemasan tersebut terpapar suhu tinggi.

BPA yang masuk ke tubuh melalui pangan dapat diserap dalam saluran cerna lalu dimetabolisme di dalam hati membentuk senyawa yang inaktif, yaitu konjugat BPA-glucuronic acid yang tidak memiliki aktivitas hormonal dan tidak berbahaya. Senyawa ini bersifat larut dalam air sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh melalui urin. Selain itu ada pula senyawa inaktif lain yang dihasilkan dalam jumlah yang lebih sedikit, yaitu BPA sulfat. Senyawa inaktif ini tidak berbahaya bagi tubuh, akan tetapi senyawa ini dapat diubah menjadi senyawa aktif oleh janin, karena organ hati dan jantungnya dapat menghasilkan enzim yang mampu mengubah senyawa konjugat BPA-glucuronic acid menjadi BPA estrogenik yang toksik. Dalam bentuk bebas, BPA bersifat sedikit lipofilik (dapat larut dalam lemak). Namun melalui proses metabolisme di dalam hati, BPA diubah menjadi senyawa yang agak lebih hidrofilik (dapat larut dalam air). Dalam bentuk aktifnya, senyawa BPA memiliki aktivitas hormon estrogen sehingga jika masuk ke dalam tubuh dapat meniru hormon estrogen. Nilai asupan harian yang dapat ditoleransi (tolerable daily intake) untuk BPA yang ditetapkan oleh European Commission adalah 0,05 mg/kg berat badan/hari (BPOM 2015).

BPA menjadi perhatian umum saat dilaporkannya hasil survey dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) yang dilakukan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika pada tahun 2003-2004, bahwa 93% warga Amerika berumur 6 tahun keatas terdeteksi BPA dalam tubuhnya. Menanggapi cepatnya kandungan BPA yang merebak di masyarakat, National Toxicology Program (NTP) kemudian mengevaluasi keberadaan BPA, melakukan penelitian, kemudian mengelompokkan resiko yang ditimbulkan oleh BPA. Tingkat tertinggi resiko BPA dalam tubuh terdapat pada tingkat some concern atau tingkat ketiga dari total 5 tingkat resiko yang secara resmi ditetapkan oleh NTP. Efek terburuk BPA bagi kesehatan adalah terganggunya perkembangan otak, tingkah laku, dan kelenjar prostat apabila anak-anak, bayi, atau bahkan janin terpapar zat ini. NTP masih mengelompokkan BPA di tingkat ketiga karena masih sangat sedikit bukti bahwa BPA berpengaruh terhadap kesehatan. Namun beberapa penelitian memberikan kemungkinan bahwa BPA dapat memiliki dampak buruk terhadap janin, bayi, dan anak-anak (Calafat, et. al. 2009).
Pada bulan Juli 2012, FDA mengambil tindakan untuk mengubah peraturan Indirect Food Additives: Polymers dalam menanggapi petisi aditif makanan diajukan oleh Chemistry Council (ACC) Amerika. Petisi ACC menunjukkan informasi yang dikumpulkan dari sumber industri yang tersedia untuk publik, bahwa penggunaan plastik polikarbonat dalam botol bayi dan cangkir sippy telah ditinggalkan. Pada bulan Juli 2013, FDA juga mengambil tindakan mengubah peraturan perihal Indirect Food Additives: Adhesives and Components of Coating dalam menanggapi petisi aditif makanan yang diajukan oleh anggota kongres Edward Markey dari Massachusetts. Petisi ini menunjukkan, informasi yang dikumpulkan dari sumber industri yang tersedia untuk publik, bahwa penggunaan resin epoksi berbasis BPA sebagai pelapis dalam kemasan untuk susu formula telah ditinggalkan (FDA 2014). Untuk menghindari kemungkinan terburuk yang ditimbulkan oleh BPA, maka perlu disosialisasikan kepada masyarakat untuk
Jangan memasukkan wadah makanan plastik polikarbonat kuat dalam microwave
Hindari wadah plastik dengan nomor kode 7 di bagian bawahnya
Jangan mencuci kontainer plastik polikarbonat dengan deterjen keras.
Mengurangi penggunaan makanan kaleng, makan makanan segar atau beku.

Bila mungkin, pilih wadah kaca, porselin, atau stainless steel terutama untuk makanan dan minuman panas.
Gunakan botol bayi bebas BPA. (M Iqbal F Gunawan)
Sumber:BPOM.2015.BahayaPaparanBisfenol A.http://ik.pom.go.id/v2015/artikel/Bahaya-paparan-Bisphenol-A.pdf (diakses 22 Oktober 2016).Calafat AM, Weuve J, Ye X, Jia LT, Hu H, Ringer S, et al. 2009. Exposure to bisphenol A and other phenols in neonatal intensive care unit premature infants. Environmental Health Perspectives 117(4):639-644. FDA. 2014. Bisphenol A (BPA): Use in Food Contact Application. http://www.fda.gov/NewsEvents/PublicHealthFocus/ucm064437.htm (diakses 22 Oktober 2016).

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow